MISTERI TENUNG DESA MUN
Suara burung gagak terus berdengung di tepian sungai seolah memberi sinyal bahwa dia akan berpesta.
“Pulang yuk, jangan lama-lama. Sudah mau jam 9 malam nih.” Ucap seorang anak laki-laki bernama Bahmi kepada seorang temannya
“Sabar. Ini filmnya sudah mau selesai.” Rully menenangkan temannya agar tetap bertahan di tempat mereka.
Desa Mun, sebuah desa kecil yang berada dekat tanjung Awar. Tanjung yang sangat menyeramkan bahkan bagi penduduknya sendiri. Desa inilah tempat tinggal Rully.
“Kau tak dengar suara gagak?” tanya Bahmi pada Rully yang sedang asik menonton televisi di sebuah kios milik seorang Ako (sebutan untuk saudagar keturunan Tionghoa di Desa Mun) saudagar di desa mereka. Walaupun zaman telah modern, Desa Mun masih menjadi desa yang belum mendapatkan akses listrik, hanya ada mereka yang berprofesi sebagai saudagar besar, dan pegawai desa yang memiliki mesin genset yang dijadikan sebagai sumber listrik alternatif. Sedangkan televisi hanya dimiliki oleh kepala desa dan Ako Liem.
“Hei anak-anak, sudah malam. Orang tua lu nanti cari ke sini. Pulang.” Teriak Ako Liem dari dalam kiosnya.
“Sebentar Ko..” Ucap Rully dengan nada memohon.
“Kagak ada. Pulang, besok lu pada sekolah.” Bentak Ako Liem
“Ayo, pulang. Ini sudah malam.” Ajak Bahmi
Dengan ekspresi kesal, Rully beranjak dari tempat duduknya dan mereka berdua pamit pada Ako Liem.
“Ako kami pulang.” Ucap Rully dan Bahmi secara bersamaan.
“Humm.. Hati-hati di jalan. Jangan lewat Setapak bawah, sudah malam. Lewat rumahnya Bapa Una saja.” Ako Liem memberi anjuran pada dua bocah kecil tersebut
“Iya ko.” Jawab Rully
“Lu berdua bawa senter kagak? Kalo kagak, pakai punya gua nanti besok lu balikin lagi pas pulang sekolah.” Ako Liem menawarkan bantuan lagi tetapi dengan ekspresi cemas
“Bawa ko.” Jawab Rully yang kemudian berjalan bersama Bahmi untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Namun, dari kejauhan Ako Liem masih melihat anak-anak tersebut dengan cemas.
“Dasar bocah, kagak ada takut-takutnya.” Gumam Ako Liem.
Di tengah perjalanan, Rully sesekali melihat ke arah belakang karena merasa ada yang mengikutinya. Bahmi pun merasakan hal yang sama.
“Tuh kan apa kubilang, kita jangan lewat jalan setapak bawah.” Gerutu Bahmi
“Mau bagaimana lagi? Siapa suruh tadi sore Kau menghajar Runa?” Rully balik Menggerutu Bahmi
“Ha.. Sekarang baru kau salahkan aku. Kenapa tadi kau diam saja saat dia mengejek Bapakmu tukang tenung.” Ujar Bahmi dengan nada marah
“Bapakku yang diejek kenapa kau yang panas? Lagipula semua orang tahu itu hanya tipuan keluarganya Runa” Balas Rully dengan ketus
“Jangan bahas itu lagi, aku benar takut saat ini.” Ujar Bahmi dengan gementar
Tiba-tiba seekor gagak terbang melintas tepat di depan Bahmi dan Rully, sontak keduanya berteriak dengan kerasnya
“ah!!!!! Ibu!!!” Teriak Rully
“Ah!!! Mama!!Tuhan!!!” Bahmi pun turut berteriak
Dalam kondisi ketakutan, keduanya kembali melihat adanya cahaya merah seperti api yang terbang melintasi mereka secara beriringan. Melihat hal tersebut Rully langsung sigap menutup mulut Bahmi.
“Sssttt... Diam!” bisik Rully yang paham tentang apa yang melintas di atas mereka. Sambil menundukkan kepala dan berusaha menyembunyikan bayangan mereka dari cahaya bulan. Iringan itu sangat banyak, Bahmi pun paham akan kejadian tersebut tetapi bocah kecil itu selalu bersikap paranoid jika melihat bola api yang melintas. Setelah merasa aman, Rully kemudian memberikan isyarat kepada Bahmi untuk bergegas pergi dari tempat tersebut. Mereka pun berlari dengan kencang pulang ke rumah mereka. Sesampainya di depan rumah, Rully langsung terkejut ibunya membuka pintu dengan cepat kemudian menarik masuk Rully.
“Dari mana kamu?” Tanya Ibunya Rully
“Dari Rumahnya Ako Liem.” Ucap Rully dengan wajah pucat
“Sekarang cuci mukamu dan berdoa sebelum tidur. Ganti pakaianmu juga.” Perintah Ibunya Rully. Bahmi sendiri pun berada di situasi yang sama di rumahnya. Bahmi dan Rully tinggal bersebelahan, kedua orang tua mereka merupakan saudara sepupu.
Keesokan paginya, ibunya Rully mulai bercerita pada Rully tentang apa yang terjadi.
“Semalam anaknya Bapak Yakub ditenung, perutnya membesar, kakinya membiru. Belum selesai obatin anak pak Yakub, eh tiba-tiba katanya anak gadisnya bapak Yunus lagi yang kena. Dia malah lebih parah, tulang kakinya sampai dipatahkan.” Cerita Ibu membuat Rully terhenyak dan mengingat kembali apa yang dia lihat semalam bersama Bahmi
“Ibu, semalam mereka pesta.” Ucap Rully dengan suara bergetar
“Siapa?” Tanya Ibu Rully
“Pesta para penenung.” Jawab Rully
“Semalam kau lihat mereka berpesta?” Tanya Ibu lagi
“Tidak. Hanya melihat mereka terbang beriringan.” Rully menjelaskan kepada Ibu
“Kurang ajar.” Ujar Ibu dengan kesal.
“Bahmi dan aku segera bersembunyi setelah melihat mereka.” Lanjut Rully
“Mulai besok kalian tidak boleh menonton TV lagi” Ibu mulai melarang Rully
Rully merasa bersalah karena telah melanggar aturan ibunya.
Di sekolah Bahmi memberitahukan cerita yang sama yang dia dengar dari ibunya. Rully pun memberitahukan pada Bahmi bahwa mereka berdua sudah tidak diperbolehkan untuk menonton TV di rumah Ako Liem. Keduanya menyesal karena tidak diperbolehkan menonton TV tetapi juga ketakutan karena bisa jadi para penenung itu bisa saja tahu kalau keduanya telah melihat pesta Para penenung.
Menurut kepercayaan adat, pesta para penenung adalah pesta terkenal karena memangsa para manusia. Mereka mengambil inti sari manusia untuk disantap guna mempertahankan kekuatan mereka. Mereka menggunakan media seperti jagung yang di goreng dan daging kelapa tua untuk memakan ‘tulang' dan ‘daging' manusia. Konon, jika ada orang yang melihat pesta tersebut maka, orang itu kemungkinan besar akan menjadi korban berikutnya. Rully dan Bahmi sangat paham cerita mitos seperti itu di desanya, tetapi sikap kekanak-kanakan mereka kadang membuat mereka lupa.
“Bagaimana ini? Tadi malam Kita sudah lihat mereka.” Bahmi mulai cemas. Kecemasan Bahmi mulai mempengaruhi Rully. Walaupun terkesan acuh dengan mitos tersebut, Rully juga takut jika mereka berdua menjadi korban tenung berikutnya.
“Jangan ceritakan kepada siapapun, cukup ibu kita saja yang tahu. Kalau sampai tersebar kita bisa celaka.” Ucap Rully yang terus menatap ke arah bayangannya sendiri
“Celaka apa?” tanya seorang pria yang berjalan di belakang kedua bocah tersebut. Sontak Rully dan Bahmi terkejut mendengar suara yang muncul dari belakang keduanya.
“Jangan sering bercerita di jalan. Pohon dan batu juga bisa mendengar.” Pria itu memberikan anjuran singkat sambil terus berjalan melewati kedua bocah yang masih berdiri dengan ekspresi terkejut.
“Itu kak Makabe kan?” Tanya Rully pada Bahmi
“Iya.” Jawab Bahmi dengan ekspresi pucat
“Semakin hari, dia semakin menakutkan.” Ucap Rully
“Iya.” Jawab Bahmi
Makabe, pria berusia 30 tahun. Anak yatim-piatu yang diasuh oleh neneknya. Dia sempat meninggalkan desanya untuk bersekolah selama 10 tahun di kota. Dia baru kembali 5 tahun yang lalu. Sejak kepulangannya, dia berubah menjadi pribadi penyendiri. Tak banyak bersosialisasi, saat di desa mereka sedang diadakan pesta, Makabe selalu berjalan ke arah sungai Awar. Kebiasaan aneh Makabe, membuat para penduduk berhati-hati dengannya, beberapa penduduk bahkan mencurigainya sebagai tukang tenung.
Hari Minggu pagi, suasana di desa Mun tampak sepi, hanya lantunan pujian yang terdengar dari dalam Gereja. Bahmi dan Rully pun pergi ke gereja bersama warga desa Mun lainnya. Sedari kecil orang tua mereka mengajarkan mereka untuk taat beribadah. Saat sedang menunggu warta jemaat, tanpa sengaja pandangan mata Rully melihat ke arah Makabe yang duduk di bangku paling belakang. Rully terpaku melihat keberadaan Makabe dan tanpa disadari Rully, Makabe pun sedang melihatnya dengan tatapan tajam.
“Rully... Rully” bisik Ibu untuk menyadarkan Rully yang sedang tertidur setelah kebaktian selesai. Rully terbangun dalam keadaan linglung. Setelah mencapai kesadaran Rully kembali melihat ke arah belakang untuk melihat Makabe kembali, tetapi tak dia dapati lagi.
“Lain kali jangan tidur larut malam, masa tadi kamu tidur di gereja?” Ibu memarahi Rully sambil merapikan Alkitab yang mereka gunakan.
“Tadi aku ketiduran bu?” Tanya Rully yang masih tidak percaya, dia merasa hanya sedetik mengedipkan mata.
“Iya, dari awal pujian persembahan.” Jawab ibu yang kemudian mengajaknya bangun dari tempat duduknya. Saat sedang berjalan menuju pintu keluar, Bahmi menyapa Rully dan mengejeknya karena tertidur saat kebaktian. Rully mengabaikan ejekan Bahmi karena merasa dirinya telah memasuki pengalaman aneh dalam Gereja. Sepulang dari Gereja, Rully langsung pergi ke rumah Bahmi untuk menceritakan apa yang telah dialami.
“Bahmi, tadi aku melihat Kak Abe di Gereja.” Ucap Rully
“Lalu?” tanya Bahmi
“Kau tahu kan tadi aku tertidur di gereja?” Lanjut Rully
“Hah.. Bukan hanya aku saja tapi pendeta di atas mimbar pun melihatmu.” Ujar Bahmi sambil tertawa. Mendengar ejekan Bahmi, Rully menghentikan pembicaraan dan melihat tajam ke arah Bahmi agar lebih serius lagi mendengar ceritanya. Melihat ekspresi kesal Rully, Bahmi menghentikan tawanya dan memasang ekspresi serius. Rully melanjutkan ceritanya
“Menurutmu kak Abe itu tukang tenung atau bukan?” Rully memberikan Pertanyaan lain untuk mengalihkan pertanyaan awalnya
“ Jika dia tukang tenung, mengapa dia bisa ikut kebaktian?” Ujar Bahmi
“Tidak tahu, tapi ada hal aneh aku alami saat melihat kak Abe.” Ucap Rully
“Benarkah?” Bahmi mulai ketakutan
“Kita ke rumahnya yuk!” Ajak Rully
“Ah tidak. Kita beritahu ibumu dan mamaku saja. Aku tak berani pergi ke sana.” Bahmi berusaha mencegah keinginan Rully
“Jika kau tak mau, biar aku saja. Tapi jangan bilang ibuku, nanti aku bisa dihukum.” Ucap Rully.
Rully pergi meninggalkan Bahmi dan berjalan menuju ke arah rumah Makabe. Bahmi yang merasa khawatir, kemudian mengikuti Rully. Bahmi mungkin penakut tetapi dia anak yang setia kawan. Kedua bocah itu mengendap-endap untuk mengintip Makabe dari balik jendela ruang tamu. Mereka melihat Makabe sedang mengikat tumpukan buku usang untuk ditata rapi di dalam kardus kemudian berjalan ke arah dapur.
“Kalian sedang apa?” suara Makabe muncul dari belakang Bahmi dan Rully. Keduanya terkejut bukan main, mereka seperti sedang melihat hantu. Tanpa basa-basi Makabe menarik keduanya ke dalam rumahnya. Bahmi dan Rully hanya bisa menangis ketakutan. Pintu dan tirai jendela segera ditutup oleh Makabe.
“Kenapa mengendap-endap di rumah orang? Siapa yang mengajari kalian seperti itu?” Makabe mulai menginterogasi kedua bocah tersebut
Bahmi dan Rully terus saja menangis dan tidak menjawab pertanyaan Makabe. Kesal dengan sikap Bahmi dan Rully, Makabe kemudian membanting tumpukan buku di depan mejanya. Bukannya diam, kedua bocah tersebut semakin meninggikan suara tangisan mereka.
“Hei! Hei! Sudah diam dulu, aku hanya bercanda. Jangan berlebihan akting menangisnya.” Gurau Makabe
Rully dan Bahmi merasa bingung dengan ekspresi Makabe yang berubah drastis. Makabe kemudian menarik dua buah kursi untuk diduduki Rully dan Bahmi. Mereka dipersilahkan duduk oleh Makabe
“Kalian sedang mencari apa?” Tanya Makabe
“Tidak kak Abe, kami hanya sekadar penasaran saja.” Jawab Rully
“Soal apa? Soal di gereja tadi?” Makabe sepertinya sudah tahu tujuan Rully
“Iya kak.” Jawab Rully dan Bahmi bersamaan. Makabe sedikit tersenyum dan mulai mendekatkan kursi ke arah Rully
“Kau tahu, tadi kepalamu yang besar itu menghalangiku melihat targetku, makanya kubuat kau tertidur.” Ujar Makabe dengan tatapan tajamnya kepada Rully. Bahmi terperanjat mendengarkan jawaban Makabe.
“Kalian pikir gedung gereja itu suci dan tak bisa dimasuki tukang tenung?” Makabe melanjutkan ucapannya sambil menggenggam tangan Rully dengan kuat.
“Bagaimana bisa?” tanya Rully dengan segala kegugupannya
“Gedung itu tak lebih dari semen dan pasir. Tidak peduli seberapa megah bangunan itu, tak bisa menahan alur para roh.” Jawab Makabe.
“Kau berbohong. Gereja tidak bisa dimasuki oleh Tukang Tenung.” Bantah Rully
“Tapi kau tertidur bukan?” Sindir Makabe
Bahmi mulai menangis lagi, hal itu membuat Makabe risih dan melepaskan cengkraman tangannya dari Rully, kemudian membuka pintu dan membiarkan kedua bocah tersebut pergi dengan ketakutan. Di tengah perjalanan, Bahmi mulai merasa ketakutan ditambah lagi hari sudah mulai gelap dan perjalanan mereka masih jauh.
“Kalo terlalu malam, sebaiknya kita menginap di rumahnya Ako Liem saja.” Saran Bahmi
“Tidak kita harus pulang malam ini juga.” Rully bersih keras untuk terus melanjutkan perjalanan mereka.
“Bagaimana kalo kita bertemu tukang tenung?” Tanya Bahmi
“Tadi kita sudah bertemu.” jawab Rully
Mereka berdua semakin mempercepat langkah mereka. Sesampainya di sungai dekat rumah mereka, sekelebat mereka melihat bayangan hitam. Yakinlah mereka, bahwa mereka telah diikuti oleh tukang tenung. Bahmi dan Rully sangat ketakutan. Tetapi Rully mengingatkan Bahmi agar tidak pingsan. Rully selalu mengingat pesan ayahnya bahwa dalam keadaan apapun saat dikejutkan oleh para penenung, mereka tidak boleh sampai jatuh pingsan.
“Anak-anak?” Suara seorang pria terdengar oleh Rully dan Bahmi. Seketika itu Rully dan Bahmi merasa lega ternyata itu kepala desa mereka.
“Hah. Bapak kades.” Ucap Rully dengan lega
“Kalian dari mana?” Tanya Bapak Kades
“Habis main pak. Mau pulang.” Jawab Bahmi
“Oh, ini sudah malam. Mari bapak antar ke rumah kalian.” Bapak Kades menawarkan diri untuk mengantarkan mereka. Rully dan Bahmi pun mengiyakan tawaran Pak Kades.
“Mau dibawa ke mana mereka?” Tanya Makabe yang sudah berdiri di belakang pak Kades. Rully dan Bahmi sangat terkejut dan gemetaran karena orang yang mereka jauhi ternyata juga mengikuti mereka.
“Kenapa kau bisa ada di sini, Makabe?” tanya pak Kades dengan ekspresi datar.
“Jangan bawa mereka. Bukankah kemarin kalian telah berpesta besar?” Ujar Makabe sambil memberikan isyarat pada Rully dan Bahmi untuk menjauhkan diri dari pak Kades.
“Kenapa kau peduli dengan anak-anak ini?” Tanya pak Kades yang mulai menunjukkan ekspresi yang menyeramkan.
“Orang tua mereka tak pernah bersepakat apapun dengan kalian. Bukankah aturannya sudah jelas?” Ujar Makabe
“Mereka telah melihat kami.” Jawab pak Kades
“Itu tidak termasuk, kalianlah yang membuat aturan bodoh itu untuk memenuhi keserakahan kalian.” Jawab Makabe. Pak Kades tidak menghiraukan perkataan Makabe dan bergegas mencengkram Bahmi. Tetapi ketika hendak terbang, pak Kades merasa tercekik. Ternyata, Makabe sedang memegang hewan bertuah milik pak Kades dalam bentuk kucing hitam bermata kuning. Pak Kades pun jatuh tercekik dan terus menggeleparkan dirinya di tanah.
“Anak-anak, tutup mata kalian!” Ucap Makabe kepada Rully dan Bahmi. Tanpa ragu, Makabe kemudian mematahkan leher kucing bertuah tersebut. Seketika tubuh pak Kades menghilang. Kucing yang dipegang oleh Makabe pun berubah bentuk menjadi bangkai yang membusuk
“Brengsek, bau sekali!” Ucap Makabe dengan kesal sambil mencium telapak tangannya yang masih melekat daging bangkai. Melihat bangkai kucing tersebut, Bahmi pun muntah di depan Rully. Diikuti oleh Makabe yang muntah karena merasa jijik dengan bangkai kucing yang dia pegang.
“Kalian berdua sedang apa! Ayo bangun dan pulang. Sampainya di rumah kalian berikan aku air dan sabun.” Bentak Makabe dengan wajah pucat karena habis memuntahkan semua makanannya.
Rully pun mengangkat Bahmi yang masih lemas karena terkejut dan muntah. Ketiganya melanjutkan perjalanan ke rumah Rully dan Bahmi. Sesampainya di rumah, Rully segera mengambil segentong air dan sabun untuk mencuci tangan Makabe. Makabe segera mencuci tangannya, sesekali dia menunjukkan ekspresi mual.
“Sini kau Bahmi, tadi kau hampir dibawa penenung.” Ajak Makabe untuk mencuci muka Bahmi. Makabe membasahi telapak tangannya kemudian mengusap wajah Bahmi.
“Kakak.. Tangan kakak masih bau bangkai.” Ucap Bahmi yang wajahnya terus-menerus diusap oleh Makabe
“Tahan. Itu agar kau segar.” Ujar Makabe dengan santai.
Seusai membersihkan tangan dan wajah mereka, Makabe pun berjalan pulang kembali ke rumahnya. Baru saja Rully dan Bahmi duduk di bale-bale teras Rully, ibu datang dengan tergesa-gesa.
“Kalian dari mana saja?” tanya Ibu
“habis main bu. Ada apa?” Jawab Rully yang bingung dengan sikap tergesa-gesa ibu.
“Pak Kades meninggal.” Ucap Ibu sambil berjalan mengambil 3 lusin sendok plastik milik mereka. Mendengar berita tersebut, Bahmi dan Rully yakin bahwa pak Kades termasuk dalam salah satu penenung.
“Eh, Bahmi. Mama dan Bapakmu sedang berada di sana. Katanya kau jangan ke mana-mana. Kau tidur dengan Rully malam ini. Kakakmu juga bantu-bantu di sana.” Lanjut Ibu yang kemudian pergi dan membawa lusinan gelas plastik.
“Aku baru ingat sekarang. Tadi di Gereja yang duduk di depanku itu pak Kades.” Ujar Rully
“Iya kau benar.” Balas Bahmi
“Sebaiknya kita masuk ke dalam. Aku mulai takut.” Ajak Rully. Bahmi dan Rully pun masuk dan menutup pintu rumah mereka.
Keesokan harinya, sepulang sekolah mereka singgah ke rumah Makabe. Kali ini mereka mengetuk pintu layaknya seorang tamu. Makabe kemudian membuka pintu dan mempersilahkan mereka berdua masuk. Pintu rumah pun dibiarkan terbuka tidak seperti kemarin saat mereka datang.
“Kenapa pintu dibuka?” tanya Bahmi
“Semua teman-teman pak Kades sedang pergi melayat.” Jawab Makabe dengan santai. Bahmi dan Rully telah mengerti maksud Makabe
“Kak, maaf kemarin kami sudah berburuk sangka dengan kakak. Kami pikir kakak itu tukang tenung.” Rully memulai permintaan maafnya
“Iya aku juga minta maaf kak.” Diikuti oleh Bahmi. Mendengar permintaan maaf Rully dan Bahmi, Makabe kemudian tertawa.
“Oh itu masalahnya. Ya sudah tidak apa-apa.” Makabe memaafkan kedua bocah itu
“Kak Abe, kenapa penenung bisa masuk ke dalam gereja?” tanya Rully penasaran, karena kenyataan tersebut tidak sesuai dengan apa yang dia dengar selama ini
“Bisa, kalo yang datang tidak membawa diri untuk beribadah. Dalam pikirannya hanya melihat ibadah sebagai rutinitas bukan kebutuhan. Orang-orang yang mengelola gereja pun tidak bersih. Mereka memakan hak para yatim-piatu dan janda. Mengambil diakonia untuk para fakir miskin. Iblis menjadikan itu sebagai makanan. Makanya kekudusan gereja itu hilang. Para penenung pun bebas berkeliaran.” Makabe menjelaskan arti gereja itu seperti apa.
“Kalo kakak bisa menghentikan para penenung, kenapa kaka tidak membantu pak Yakub dan Yunus?” Tanya Bahmi
“Itu kasus yang berbeda. Apa yang mereka alami itu hasil perbuatan mereka. Mereka saling melemparkan tenung untuk memperebutkan warisan. Masih syukur anak-anak mereka hidup.” Jawab Makabe dengan santai.
“Kakak juga membantu mereka sembuh?” Tanya Rully
“Bukan. Tuhanlah yang masih berbaik hati dengan mereka.” Jawab Makabe
“Kalian berdua, sekarang mungkin diincar oleh penenung lainnya. Jadi, mulai malam ini jangan berkeliaran.” Lanjut Makabe
“Baik kak. Kalo begitu kami pulang sekarang.” Bahmi buru-buru pamit pulang dan menarik lengan Rully.
“Oh ya satu lagi. Kalian sudah bisa membedakan para penenung dengan orang biasa.” Ucap Makabe. Rully dan Bahmi menghentikan langkah mereka dan berbalik ke arah Makabe
“Jika kalian merasakan ada hawa panas di belakang telinga kalian, maka kalian sedang berhadapan dengan mereka.” Lanjut Makabe dengan memberikan senyuman yang menyeramkan. Bahmi dan Rully sadar bahwa sedari tadi mereka merasakan hawa panas di belakang telinga mereka. Seketika pintu rumah Makabe terkunci dan tirai jendela pun tertutup rapat. Rully dan Bahmi terkurung di dalam rumah Makabe selamanya.
Jasad Rully dan Bahmi ditemukan di tepi teluk Awar. Tetapi jiwa mereka masih terkunci di rumah Makabe. Ternyata Makabe pun seorang penenung yang sedang belajar menenung dan dia ingin menyingkirkan para penenung lama di desa tersebut. Misteri para penenung masih menjadi rahasia yang terus-menerus menelan korban jiwa anak-anak di Desa Mun.

Comments
Post a Comment