MISTERI TENUNG DESA MUN
Suara burung gagak terus berdengung di tepian sungai seolah memberi sinyal bahwa dia akan berpesta. “Pulang yuk, jangan lama-lama. Sudah mau jam 9 malam nih.” Ucap seorang anak laki-laki bernama Bahmi kepada seorang temannya “Sabar. Ini filmnya sudah mau selesai.” Rully menenangkan temannya agar tetap bertahan di tempat mereka. Desa Mun, sebuah desa kecil yang berada dekat tanjung Awar. Tanjung yang sangat menyeramkan bahkan bagi penduduknya sendiri. Desa inilah tempat tinggal Rully. “Kau tak dengar suara gagak?” tanya Bahmi pada Rully yang sedang asik menonton televisi di sebuah kios milik seorang Ako (sebutan untuk saudagar keturunan Tionghoa di Desa Mun) saudagar di desa mereka. Walaupun zaman telah modern, Desa Mun masih menjadi desa yang belum mendapatkan akses listrik, hanya ada mereka yang berprofesi sebagai saudagar besar, dan pegawai desa yang memiliki mesin genset yang dijadikan sebagai sumber listrik alternatif. Sedangkan televisi hanya dimiliki oleh kepala ...